Mimpi Bahan Bakar Air “Nikuba”: Diskusi Luar Kelas Mesin Unimma.Bayangkan jika suatu hari kita tidak lagi perlu mampir ke SPBU. Cukup menampung air keran, menuangkannya ke tangki motor atau mobil, lalu berkendara sejauh mungkin tanpa mengkhawatirkan harga BBM yang terus melambung. Gambaran ini barangkali terdengar seperti potongan cerita fiksi ilmiah, tetapi beberapa waktu lalu, publik Indonesia dibuat terpana oleh klaim Nikuba, sebuah alat buatan tangan kreatif warga Cirebon yang dikabarkan mampu mengubah air menjadi energi penggerak kendaraan bermotor.
Di tengah tekanan ekonomi dan harga bensin yang tidak bersahabat, kabar ini segera viral. Banyak orang memimpikan solusi instan yang murah meriah. Bagaimana tidak? Air adalah unsur paling melimpah di bumi pertiwi. Jika bisa dimanfaatkan langsung sebagai bahan bakar, tentu akan menjadi revolusi dalam sejarah otomotif. Namun, sebelum kita larut dalam euforia, mari kita tinjau secara lebih jernih, apakah air benar-benar bisa menjadi bensin baru?
Secara ilmiah, air (H2O), memang dapat dipecah menjadi hidrogen dan oksigen melalui proses elektrolisis. Hidrogen adalah gas yang mengandung energi pembakaran sangat tinggi. Proses pemecahan molekul air membutuhkan energi sebesar 2,3 -2,5 electronvolt per molekul, yang harus disuplai dari sumber eksternal, biasanya listrik. Sederhananya, energi ini tidak datang secara gratis. Kalau kendaraan menggunakan aki atau alternatornya untuk menghasilkan listrik pemisah air, maka sebenarnya mesin kendaraan bekerja lebih keras untuk menanggung beban konversi energi tersebut.
Inilah titik krusial yang kerap luput disorot. Hukum Kekekalan Energi mengingatkan kita bahwa energi tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan. Jika suatu sistem tampak menghasilkan energi lebih besar daripada energi yang dimasukkan, ada yang terlewat dalam penghitungan. Itulah mengapa banyak insinyur otomotif menilai klaim “air jadi bahan bakar langsung” lebih mirip pseudo science ketimbang inovasi siap pakai.
Pertanyaan logis berikutnya adalah, bila konsep Nikuba memang revolusioner, mengapa produsen otomotif global belum mengadopsinya? Hingga hari ini, pabrikan besar seperti Toyota, Honda, Hyundai, hingga BMW baru berfokus pada pengembangan fuel cell, sebuah teknologi yang memanfaatkan hidrogen murni bertekanan tinggi untuk menghasilkan listrik di dalam sel bahan bakar. Bukan memecah air di dalam kendaraan. Alasannya sederhana, efisiensi proses elektrolisis di kendaraan sangat rendah, biaya pengolahan hidrogen tetap tinggi, dan keamanan penyimpanan hidrogen memerlukan standar ketat.
Memang, kendaraan berbahan bakar hidrogen diyakini akan menjadi masa depan transportasi rendah emisi. Hidrogen yang dibakar atau diubah menjadi listrik hanya menghasilkan uap air sebagai emisi. Namun ironisnya, hingga saat ini, sebagian besar hidrogen masih diperoleh dari proses reforming gas alam dan batubara, yang berarti tetap menambah jejak karbon.
Karena itu, meskipun Nikuba berhasil membuat publik berbicara, secara akademik konsep ini belum mampu memenuhi kaidah rekayasa energi yang valid. Energi yang digunakan untuk memecah molekul air tidak akan lebih kecil dari energi yang dihasilkan ketika hidrogen dibakar. Bahkan, dalam praktiknya, kendaraan justru akan lebih boros karena harus memasok listrik tambahan untuk memproduksi gas hidrogen secara real time.
Di balik semua itu, Nikuba tetap patut diapresiasi sebagai wujud kreativitas masyarakat. Ia memberi kita pelajaran berharga: inovasi sejati bukan hanya soal ide brilian, tetapi juga soal keberanian menguji, membuktikan, dan mempertanggungjawabkan klaim secara ilmiah. Sebab, di jalan panjang menuju transportasi bersih, tidak ada jalan pintas yang mengabaikan hukum dasar fisika.
Sebagai penggemar otomotif dan pencinta teknologi, kita perlu tetap membuka diri pada inovasi, sekaligus bersikap kritis. Setiap klaim revolusioner wajib diuji secara transparan dan komprehensif, bukan sekadar dibenarkan karena viral. Dalam dunia teknik mesin, setiap energi harus bisa dihitung, setiap proses harus bisa diukur. Bila suatu alat diklaim bisa menggantikan bensin hanya dengan air tanpa biaya energi tambahan, besar kemungkinan kita sedang menyaksikan mitos baru, bukan terobosan nyata.